Bukan Senja, hanya saja..
"Maka siluetkan tubuhmu berlatar senja, karena tak sanggup kulihat airmatamu, Kekasih …"
- Sudjiwo Tedjo -
Begitulah penyair tersebut mendeskripsikan senja, dengan romantisme diksi yang tepat mampu menyihir pembaca. Dalam, begitulah maknanya. Senja kala itu, mungkin mentari berakhir menyinari bumi untuk kali ini, tetapi bukan untuk esok yang penuh harapan kembali. Senja itu tandaku untuk kembali pulang ke tempat istirahatku.
Senja kala itu, telah memberi makna betapa banyak waktu kita sita untuk hari ini. Bekerja, sekolah/kuliah atau sekedar jalan-jalan. Setidaknya setiap hal yang kita lakukan hari ini adalah hal yang mengandung nilai-nilai spirit kehidupan. Mengapa? Agar hidup ini tak sia-sia. Cobalah tatap sejenak senja itu dengan maknamu. Apakah hanya sekedar awan merah kekuningan dengan langit yang mulai gelap?
Bagiku itu bukan senja, hanya perpindahan dimensi waktu saja. Dari terang penuh cahaya dengan gelap yang sedikit cahaya. Tak ada yang membedakan lebih, jika hanya seperti itu. Maka senja itu bukan hanya itu, tetapi waktu yang tepat untuk mengevaluasi apa yang telah kita lakukan sepanjang hari. Sinar yang mulai menghilang pertanda, yang kita lihat, kita miliki tak akan abadi. Ada waktu kita melepaskan, menghilang tanpa kita ketahui penyebabnya. Dari situ kita belajar bahwa kita perlu sesuatu yang baru dalam kehidupan.
Bukan senja, hanya waktu yang berbalik untuk berhenti. Berhenti sejenak dari rumitnya pikiran kita yang tak lagi lurus. Cukup secangkir teh/kopi di sore hari, nikmati sejenak hidup yang memang rumit. Tarik nafas, rasakan angin sore yang sejuk dan menenangkan. Lupakan segala beban dan pandang senja yang tak hanya senja.
- Sudjiwo Tedjo -
Begitulah penyair tersebut mendeskripsikan senja, dengan romantisme diksi yang tepat mampu menyihir pembaca. Dalam, begitulah maknanya. Senja kala itu, mungkin mentari berakhir menyinari bumi untuk kali ini, tetapi bukan untuk esok yang penuh harapan kembali. Senja itu tandaku untuk kembali pulang ke tempat istirahatku.
Senja kala itu, telah memberi makna betapa banyak waktu kita sita untuk hari ini. Bekerja, sekolah/kuliah atau sekedar jalan-jalan. Setidaknya setiap hal yang kita lakukan hari ini adalah hal yang mengandung nilai-nilai spirit kehidupan. Mengapa? Agar hidup ini tak sia-sia. Cobalah tatap sejenak senja itu dengan maknamu. Apakah hanya sekedar awan merah kekuningan dengan langit yang mulai gelap?
Bagiku itu bukan senja, hanya perpindahan dimensi waktu saja. Dari terang penuh cahaya dengan gelap yang sedikit cahaya. Tak ada yang membedakan lebih, jika hanya seperti itu. Maka senja itu bukan hanya itu, tetapi waktu yang tepat untuk mengevaluasi apa yang telah kita lakukan sepanjang hari. Sinar yang mulai menghilang pertanda, yang kita lihat, kita miliki tak akan abadi. Ada waktu kita melepaskan, menghilang tanpa kita ketahui penyebabnya. Dari situ kita belajar bahwa kita perlu sesuatu yang baru dalam kehidupan.
Bukan senja, hanya waktu yang berbalik untuk berhenti. Berhenti sejenak dari rumitnya pikiran kita yang tak lagi lurus. Cukup secangkir teh/kopi di sore hari, nikmati sejenak hidup yang memang rumit. Tarik nafas, rasakan angin sore yang sejuk dan menenangkan. Lupakan segala beban dan pandang senja yang tak hanya senja.


Komentar
Posting Komentar